Kantor Perbekel Desa Tanglad

Perbekel Desa Tanglad Periode 2013 - 2019

I Wayan Bangsa, BA

Sejarah Desa

  • Dibaca: 373 Pengunjung

 

Sejarah  Desa Tanglad

Menurut sumber yang dapat dipercaya, dengan wawancara yang padat maka dapatlah kami susun riwayat/sejarah singkat sampai terbentuknya Desa Tanglad

Pada suatu hari yaitu sehari setelah Hari Raya Kuningan ada satu rombongan berlayar dengan maksud untuk pesiar. Rombongan tersebut berasal dari Desa Ketewel Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar. Sesampai di tengah lautan tanpa di sadari rombongan telah diseret oleh arus yang disertai dengan gelombongan besar. Begitu pula dengan tiba-tiba datang angina kencang yang menghanyutkan rombongan hingga terdampar di tebing curam di sebelah selatan Pulau Nusa Penida. Di tebing itulah rombongan baru bisa menginjakan kaki guna mencari perlindungan. Karena perahu merekan tumpangi mengalami kerusakan berat maka dengan tekad yang bulat serta kemauan yang keras salah seorang rombongan tersebut berhasil menaiki tebing yang masih berada di bawah, akhirnya semua dari rombongan tersebut bias naik dengan selamat walaupun dengan keadaan yang sangat parah.

Untuk kembali melajutkan perjalanan dengan keadaan yang sangat payah (langkah) melingkap maka tepat itu diberi nama Dungkap. Di tempat ini rombongan tersebut tinggal beberapa lama bahkan sudah ada yang bercocok tanam.

Pada suatu hari tertentu pemimpin yang tertua dalam rombongan tersebut memberikan suatu perintah kepada salah seorang dari anggota rombongan. Adapun yang diperintah itu adalah I BEKUNG. Karena I BEKUNG ini masih kekanak-kanakan serta perintah yang diterimanya seolah-olah paksaan maka ia merasa kesal. Dengan rasa kesal dihati pergilah I BEKUNG meniggalkan rombongan yang diikuti oleh Adiknya  yang bernama Ni Wulan Singa.

Setelah lama berjalan menuju ke timur kedua anak tersebut merasa lelah dan istirahat untuk mencari makanan, dalam mencari buah-buahan ia bertemu dengan pohon besar yang diberi nama Behingin, dan seterusnya bertemu pohon besar lagi diberi nama pohon Gepah/Gepoh. Begitu juga tempatnya diberi nama Gepuh.

Setelah beberapa lama tinggal di Gepuh, I Bekung dan Ni Wulan Singa meneruskan perjalanan kearah selatan, bertemu dengan tanaman bambu yang lengkap dalam Bahasa Bali disebut Carub, maka tempat itu diberi nama Caruban. Setelah lewat Caruban mereka bertemu lagi dengan berbagai kesulitan akhirnya mereka mengalami sakit. Karena sakit itu mereka seolah-olah mecangcang (tidak bisa kemana-mana) maka tempat itu dibri nama Penyangcangan. Setelah sembuh mereka melajutkan perjalanan kea rah selatan dan akhirnya bertemu dengan huta yang sangat lebat. Disinilah timbul niat dari Ni Wulan Singa untuk melakukan tapa semadi. Di dalam melakukan tapa semadi, Ni Wulan Singa mendapatkan anugrah (Sabda) agar mereka menruskan perjalanan kea rah timur. Dalam meneruskan perjalanan ke Timur mereka bertemu dengan tebing yang tinggi karena Ni Wulan Singa di tinggalkan oleh Kakaknya ia memanggil kakaknya dengan : Anti……… anti…….. anti (tunggu) maka tempat itu diberi nama Anta

Dari Anta melanjutkan perjalanan kearah Barat langkahnya menjadi tidak tentu dalam Bahasa Balinya Sayar/Soyor, dengan hal itu tempat itu diberi nama Soyor.

Oleh karena itu Ni Wulan Singa merasa belum memperoleh apa yang diinginkan maka ia lagi melakukan tapa yoga, semadi yang akhirnya mendapat sabda sebagai berikut : “ Wahai Anakku sebenarnya perjalanmu menuju ke Selatan itu adalah salah, pohon yang besar ada sebelah Timur”

Dengan sedikit lega meraka kembali melanjutkan perjalanan dengan menemukan berbagai macam keanehan dan selanjutnya bertemu dengan tebing curam. Disinilah  ia berpikir setelah lama melakukan perjalanan dari Barat sampai ke ujung Timur yang menurut pikirannya merupakan batas dari daratan itu, maka tempat tersebut diberi nama Watas.

Setelah meninggalkan Watas mereka meneruskan perjalanan menuju arah Utara, dengan cepat diambilnya keputusan bahwa daerah itu cocok untuk daerah Bertanian dan mereka bermaksud menetap di sana.  Karena cepat mengambil keputusan itu, maka tempat itu diberi nama Julingan yang berasal dari kata “Iju” dan kata “Ling” kata Iju berarti cepat dan Ling berarti Tujuan/maksud.

Setelah menetap di Julingan mereka teringat dengan peristiwa lama sewaktu berpisah dengan tetangga yang dulu di tempat yang mereka tempati sekarang. Karena itulah mereka memberi nama tempat itu Tangga lad yang berarti bekas tetangga. Pengaruh jamanlah yang membawa perubahan nama Tangga Lad menjadi Tanglad disinilah I BEKUNG dan NI WULAN SINGA menetap dan akhirnya kawin sehingga melahirkan keturunan sampai sekarang. Dimana sekitar Tahun 1905 Tanglad dijadikan Desa yang menjadi Perbekel yang ke Pertama pada waktu itu nama :

1.   Jero Wayan Kilat

2.         Guru Gede Gerarah

3.         I Ketut Jagra

4.         I Ketut Sekar

5.         I Ketut Jagra

6.         I Ketut Genter

7.         I Wayan Sekar ( dua kali masa jabatan)

8.         I Gede Natih

9.         I Wayan Sumawa

10.      I Putu Ariantara

11.      I Made Rama

12.      I Kadek Widyartha (dua kali masa jabatan)

13.      I Wayan Bangsa,BA

 

Desa Tanglad Merupakan Desa yang berada di Daerah perbukitan di Pantai Timur Pulau Nusa Penida yang mempunyai keitinggi 460 m permukaan air laut dengan curah huja rata-rata 0,5 m tiap tahun.

a.    Batas – batas Desa :

Adapun batas – batas Desa Tanglad adalah sebagai berikut :

-      Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pejukutan

-      Di sebelah Timur berbatasan dengan Selat Lombok

-      Di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sekartaji

-      Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Batukandik

b.   Luas Desa

Luas Desa Tanglad secara keseluruhan adalah : 1.427,920 Ha

  • Dibaca: 373 Pengunjung