Apakah Tuhan Sakit Panas Dalam Oleh: Mpu Jaya Prema Ananda

  • 15 Oktober 2015
  • Dibaca: 281 Pengunjung
Apakah Tuhan Sakit Panas Dalam Oleh: Mpu Jaya Prema Ananda

SEKARANG sudah umum dijumpai kalau ada piodalan di pura, masyarakat membuat  gebogan(disebut juga pajegan) yang berisi minuman kaleng. Minuman itu dijejer sebagai dasar dari gebongan, lalu di atasnya baru ada buah atau makanan lain. Buah pun juga yang segar kebanyakan beli di supermaket.

Minuman kaleng yang digemari umumnya larutan untuk menyembuhkan penyakit “panas dalam”. Juga minuman ringan lainnya. Bukan sejenis bir. Apakah Tuhan tidak suka minuman beralkohol dan lebih senang larutan, apakah mungkin Tuhan kena sakit “panas dalam”? Ternyata tak terpikirkan sampai di situ, masalahnya adalah cari yang mudah dibeli. Bir sulit karena ada pembatasan dalam pemasarannya.

Artinya, apa yang kini dipersembahkan orang dalam memuja Tuhan adalah yang paling mudah didapat, meski dengan membeli. Ternyata juga lebih praktis. Konon, dibanding membuat jaja gipangtradisional atau apem, lebih rumit dan jatuhnya lebih mahal. Apalagi membuat kaliadrem(jajan tradisional yang berlobang itu], merepotkan jika hanya untuk membuat satu gebogan. Lebih baik membeli donat, sama-sama berlobang.

Umat Hindu kini memasuki era industri tak punya waktu untuk mempersiapkan diri lebih banyak menghadapi piodalan di pura. Dulu ketika masih era agraris dan hidup sebagai petani atau berkebun, waktunya lebih longgar. Membuat kue dan mencari buah di kebun bisa lebih longgar. Kini waktu kepepet karena pekerjaan di kantoran tak bisa ditinggal berlama-lama. Jadi, kalau ingin tetap mempersembahkan “yang mirip gebogan”, ya beli saja buah di pasar. Pasar termasuk swalayan di kota, sudah menjadi “kebun” yang menyiapkan aneka buah.

Adakah yang salah dari fenomena ini? Sastra dalam Hindu menyebutkan, persembahkan hasil dari alam sendiri. Namun jangankan sastra, sloka dalam Hindu pun masih bisa multi tafsir dan tak habis-habis diperdebatkan. Apakah alam itu? Dulu penafsiran terbatas bahwa alam yang dimaksud adalah alam di mana lingkungan kita berada. Karena itu dalam tradisi Hindu di Bali, setiap tumpek (Sabtu Kliwon) selalu dikaitkan dengan pemujaan alam. Ada tumpek Kandang unuk memuliakan hewan peliharaan, ada Tumpek Wariga untuk memuliakan tumbuh-tumbuhan. Kini penafsiran alam berkembang karena mulai ada istilah “bumi yang satu”. Segala yang ada di bumi maka itulah alam semesta yang luas. Keperluan ritual untuk persembahan pun melebar. Buah datang dari luar Bali, bahkan dari luar negeri.

Jika demikian halnya, sah-sah saja minuman kaleng dan buah impor ada dalam gebogan. Namun ada yang harus dijadikan patokan. Apa misalnya? Hindari makanan yang tidak sehat, karena Hindu mengajarkan makanan itu haruslah satwik. Jadi kalau minuman kaleng yang dipersembahkan, janganlah yang membuat kita mabuk, karena mabuk itu melanggar agama. Begitu pula buah, haruslah buah yang sehat, bukan yang membuat sakit atau mabuk. Bir atau duren muontong, misalnya, haruslah dihindari, bukan karena kebetulan lebih mahal tetapi bisa membuat mabuk. Bukankah hal-hal yang memabukkan seperti arak, hanya dipersembahkan untuk bhuta (alam bawah) bukan untuk alam dewa.

Ini penting diperhatikan karena Tuhan dengan segala manifestasinya, sesungguhnya tak perlu “makan” buah-buahan dan minuman. Tuhan tentu tak pernah sakit “panas dalam” jadi tak membutuhkan minuman larutan dalam kaleng. Kitalah yang mempersembahkan semua itu yang nantinya akan menikmati. Kita yang menerima lungsuranatau prasadamnya. Apa yang kita makan sesungguhkan adalah hasil dari persembahan itu. Kitab Bhagawad Gita percakapan IV sloka 31 berbunyi: Yajna sistamrta bhujo – yanti brahma sanatanam – nayam loko sty ayajnasya – kuto nyah kuru-sattama. Terjemahan bebasnya: Mereka yang memakan sisa makanan suci yang tersisa dari suatu persembahan (atau pengorbanan) akan mencapai Brahman Yang Abadi (Tuhan). Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau mempersembahkan suatu pengorbanan (yadnya), apa lagi dunia yang lainnya, oh Arjuna.

Bagaimana pun sepanjang kita mampu membuat persembahan, buatlah itu dengan makanan yang akan bisa kita ambil prasadamnya. Jangan mempersembahkan sesuatu yang tak bisa kita lungsur.Kita membuat jajan asal-asalan, kita usung ke pura, usai persembahyangan jajan itu kita buang karena memang sudah basi, kotor, dan tak layak makan. Lalu kita singgah ke warung muslim membeli sate kambing. Ini yang lebih menyimpang dibandingkan kita sudah sejak awal mempersiapkan makanan yang layak lungsur, meski pun dengan cara membeli. Intinya, utamakan ada prasadam di setiap persembahan kepada Tuhan. Adapun soal memakai minuman kaleng, jika diperdebatkan dari sisi “rasa” dan “kearifan lokal” atau “tradisi budaya” itu bisa jadi debat kusir. Serahkan kepada pribadi masing-masing. (*)

Sumber:http://www.mpujayaprema.com/index.php/baca-posting/580/Apakah-Tuhan-Sakit-Panas-Dalam

  • 15 Oktober 2015
  • Dibaca: 281 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel