Perkawinan Sakral Menurut Hindu Oleh: Mpu Jaya Prema Ananda

  • 14 Oktober 2015
  • Dibaca: 273 Pengunjung
Perkawinan Sakral Menurut Hindu Oleh: Mpu Jaya Prema Ananda

PERKAWINAN menurut agama Hindu, apalagi dalam budaya dan adat Bali, sangat sakral. Tak ada yang berniat membuat sensasi, meski pun peristiwa ini hanya sekali di dalam hidup. Tak ada misalnya perkawinan dengan ritual Hindu dilangsungkan di puncak gunung, atau menyelam di laut, apalagi sambil terjun payung. Bagaimana mungkin memboyong sulinggih atau pemangku untuk acara semacam itu?

Kalau pun ada muatan sensasionalnya, paling itu diwujudkan dalam bentuk pakaian. Sekali dalam seumur hidup berpakaian ala raja-raja agung tempo dulu, bahkan memakai busana raja Jawa lengkap dengan topi kebesarannya. Biaya menyewa pakaian dan mendatangkan juru rias bisa jauh lebih mahal dari biaya sesajennya. Tak ada yang salah.

Yang penting kesakralan perkawinan itu terpenuhi dengan Tri Saksi. Ketiga saksi ini adalah saksi kepada bhuta yang diwujudkan dengan upacara mabeakala. Lalu saksi kepada Tuhan melalui Istadewata yang diwujudkan dengan “natab banten pawiwahan” dipimpin pemangku atau pendeta. Yang ketiga disaksikan oleh pemuka adat dan pemuka desa (dinas) dari kedua asal mempelai untuk keperluan administrasi kependudukan. Setelah ketiga saksi itu terpenuhi dan berjalan sesuai dengan aturan, perkawinan pun dinyatakan sah. Sah secara sekala (hukum duniawi) dan sah secara niskala (religius keagamaan).

Setelah perkawinan itu sah secara sekala dan niskala maka syukuran yang mengundang sanak keluarga dan teman-teman pengantin, baru bisa dilaksanakan. Syukuran bisa berupa resepsi tersendiri di lain tempat. Bisa pula dilakukan setelah usai ritual sakral itu untuk menghemat biaya. Di mana pun diselenggarakan maka syukuran ini pun juga tak bisa dilepaskan dari kesakralan. Masih banyak ada kepercayaan pada sebagian orang, bahwa pasangan pengantin yang belum selesai melakukan ritual “pawiwahan” termasuk berstatus cuntaka (kotor secara rohani), sehingga orang itu tak mau makan minum di tempat orang yang berstatus cuntaka.

Uraian ini untuk memperjelas bagaimana status orang yang menghadiri syukuran “perkawinan sejenis” yang menghebohkan di Ubud beberapa hari yang lalu. Di media sosial ada yang mempertanyakan hal itu. Penanya termasuk orang moderat yang mengakui “perkawinan sejenis” itu sah karena dilakukan di Amerika Serikat, negara yang mengizinkan secara hukum “perkawinan sejenis”. Apa yang dilakukan di Ubud bukan lagi “perkawinan” tetapi hanya “syukuran”. Apakah itu juga “kotor” padahal sudah diberi tirtha prayascita oleh pemangku? Tetap saja termasuk “kotor” dalam pengertian cuntaka, karena dasar perkawinan itu sendiri bukanlah dalam ritual Hindu. Justru kalau tidak dilibatkan pemangku, tak ada tirtha prayascita dan tak ada istilah “karma cleansing” maka syukuran di Ubud itu sepenuhnya sekuler. Tak ada kaitan dengan agama dan tak ada keterlibatan dengan adat, mungkin juga tak akan ada heboh.

Cuma masalahnya apakah orang yang hadir di syukuran itu benar-benar merasa cuntaka lalu perlu membersihkan diri, tergantung keyakinan masing-masing dan sifatnya sangat pribadi. Ini persoalan rasa. Bupati Gianyar dan pemuka agama setempat juga berniat mengumpulkan pendapat pakar agama, apakah akan membuat “penyucian lingkungan” di lokasi hotel tersebut, misalnya, dengan menggelar caru atau tidak. Belum ada keputusan,

Ini lagi-lagi membuktikan bahwa ritual perkawinan begitu sakralnya, sehingga tak bisa dijadikan barang permainan. Syukuran perkawinan saja menimbulkan masalah, apalagi “perkawinan sejenis” yang sama sekali tak diperkenankan dalam ajaran Hindu itu. Kitab Manawa Dharmasastra banyak menunjukkan bagaimana sucinya perkawinan itu untuk menghasilkan keturunan yang suputra. Keturunan tentu akan ada jika pasangan itu adalah lelaki dan perempuan, bukan lelaki dengan lelaki atau perempuan dengan perempuan. Manawa Dharmasastra IX. 96 menyebutkan: Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah. Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah. (Untuk menjadi ibu, wanita diciptakan. Untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan.)

Jadi perkawinan yang sah dalam Hindu adalah antara lelaki dan perempuan karena akan menurunkan anak. Undang-Undang Perkawinanpada Pasal 1 langsung menyebutkan: “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.”

Maka marilah kita hormati lembaga perkawinan yang sakral itu dan jangan dibawa-bawa ritual Hindu untuk syukuran perkawinan yang bukan berlandaskan ajaran Hindu. (*)

di Copas dari http://www.mpujayaprema.com/index.php/baca-posting/574/Perkawinan-Sakral-Menurut-Hindu

  • 14 Oktober 2015
  • Dibaca: 273 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel